Rabu, 27 April 2011

kalau ini kisah yang saya ambil dari liputan 6, keren nih semua berawal dari 0 (nol)

Novrianus Barend:
“ Boro-boro punya cita cita jadi cameraman, yang ada waktu itu adalah asal bisa kerja menghasilkan uang, dan gak mesti di televisi kerjanya. Kebetulan waktu itu ada lowongan di SCTV di bagian teknik, saya melamar dan diterima di divisi teknik logistik.”
Tepatnya 25 September 1996, Novri bergabung di SCTV, bertugas di bagian teknik logistik, melayani kru liputan untuk pengambilan alat-alat seperti kamera, tripod dll. Berkat lingkup kerjanya yang selalu berhubungan dengan kru liputan, Novri banyak memiliki kesempatan belajar tentang camera. Teknik pengambilan gambar ia dapat melalui ngobrol dengan cameraman dan menonton berita.
“Waktu lihat cameraman ambil kamera untuk liputan, keren gitu lho, perasaan jadi ngiri gitu. Kapan ya saya bisa jadi cameraman?”
Satu tahun lamanya pertanyaan di atas selalu berputar-putar dibenaknya, tidak dinyana akhirnya datang juga kesempatan Novri untuk meliput bersama reporter. Waktu itu Koordinator cameraman kehabisan kru, padahal ada peristiwa kriminal yang harus segera diliput. Ada orang mati ditembak!!!
“Sebelum meliput sendiri, saya sering ikutan temen-temen kriminal hunting malam, kadang kadang cameramannya kasih saya kesempatan untuk ambil gambar. Nah waktu disutuh liputan senengnya bukan main. Apalagi waktu tayang nama saya disebut sebagai cameramannya. Ternyata nikmatnya lebih dari yang dibayangin. Tapi saya belum puas lihat hasil gambar sendiri, walau koordinator bilang lumayanlah buat pemula.”
Tidak pernah merasakan pendidikan teknik kamera secara formal, makin memicu Novri untuk terus belajar. Walau otodidak hingga kini ia telah banyak menguasai berbagai macam skill seperti, Underwater Camera, pengiriman gambar via satelit dan VPN-IP serta editing gambar berbasis computer.
Meliput di daerah konflik seperti Aceh dan Ambon sudah sering dialami oleh bapak dua anak ini. Bahkan saat Aceh masih dalam kondisi darurat militer, ia sempat terjebak pada situasi kontak senjata antara TNI dengan GAM.
“Gak ada rasa takut waktu disuruh ke Aceh, walau taruhannya nyawa ya mau diapain, karena udah resiko pekerjaan kita. Saya selalu ingat omongan temen-temen yang lebih senior, untuk jangan berhenti belajar, jangan takut salah karena kalau gak pernah salah kita gak tahu mana yang benar.”
Ketika ditanya apakah akan tetap berprofesi sebagai cameraman.
“Gak tahu deh liat nanti aja,” ujarnya sambil pergi untuk minum kopi di kantin belakang.
Daeng Tanto:
“Lulus SMA gak bisa kuliah, karena kakak saya yang dapet jatah duluan, jadi harus tunggu tahun depan. Daripada nganggur saya nongkrong di sanggar senirupa sambil belajar melukis dan fotografi. Sering ketemu orang manggul kamera, jadi kepingin. Waktu itu sih perasaan kalo jadi cameraman kayaknya udah hebat.”
Sambil kuliah jurnalistik di Surabaya, Daeng Tanto bekerja di rumah produksi sebagai lightingman, kadang ia gulung kabel, atau juga sebagai cameraboy. Selama tiga tahun pekerjaan itu dilakoni sambil terus mengasah kemampuan tentang teknik kamera.
“Pertama disuruh pegang camera, langsung tangan ini dredeg (gemetar) takut salah. Tapi lama-lama biasa juga sih. Pas kerja di Liputan6 juga gitu, apalagi waktu itu meliput tawuran mahasiswa, posisi saya di tengah orang tawuran. Saking semangat campur panik jadi gak konsentrasi sampe salah rekam, mestinya merekam justru sebaliknya. Jadi gambarnya justru aspal sama pohon-pohon gitu.”
Keinginan Daeng Tanto saat ini adalah menjadi Video Jurnalist (VJ). Alasan pemegang gelar Sarjana Publisistik ini, pengetahuan dia mengenai dunia jurnalistik ditambah skill sebagai cameraman, cukup sebagai bekalnya menjadi seorang VJ.
“Malah kalau ada waktu dan kesempatan, saya mau ngajar, Mas!”
Dari cerita di atas bisa disimpulkan bahwa tidak mudah berprofesi sebagai cameraman, dan tidak seorang pun sejak awal ingin menjadi cameraman. Sampai suatu saat nanti, entah kapan, ketika tangan Anda harus memegang sebuah kamera dan Anda boleh berkata, ”Saya seorang Cameraman.”
Tapi saya masih berharap kelak, suatu saat saya menemukan siswa TK atau SD ketika ditanya apa cita citanya, ia menjawab: …CAMERAMAN!!!
Salam SCTV

Minggu, 17 April 2011

ucapan matur nuwon

hay...sebelumnya saya tidak ingin buat kata pengantar sih, tapi saya buat aja deh biyar kayak penulis beneran hehehe,O_o .. pertama tama saya ucapkan puji syukur kepada TUHAN YANG MAHA ESA yang telah memberikan saya kehidupan yang baik, kepada umik yang selalu sayang sama saya hehehe, buat temen temen yang sudah nyempetin  melihat blog ini, makasi banyak ya sob, karna tanpa kalian karyaku tak berarti. aku doain deh semua yang udah nyempetin kesini habis ini dapat rizki... heheh 'amin".. sekali lagi saya doni purnama mator nuwon,... monggo di sekecakaken ... ^_^